Dalam kehidupan berjemaat, Tuhan telah menetapkan struktur kepemimpinan yang bertujuan untuk membangun tubuh Kristus. Salah satu peran krusial yang ditetapkan-Nya adalah kehadiran gembala. Seorang gembala diberikan otoritas penuh oleh Allah bukan untuk berkuasa atau memerintah dengan tangan besi, melainkan untuk melayani dan menuntun setiap jemaat. Seringkali muncul kekeliruan dalam memandang otoritas gembala. Ada yang menganggap otoritas tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi, sehingga memicu sikap tidak hormat terhadap pengajaran yang disampaikan. Bahkan, ada kecenderungan jemaat merasa bisa melangkah sendiri tanpa bimbingan karena merasa sudah cukup hanya dengan membaca Alkitab secara pribadi. Namun, penting untuk kita sadari bahwa Otoritas berasal dari Allah, dimana setiap Jabatan gembala bukanlah sekadar posisi manusiawi, melainkan kepercayaan yang diberikan Tuhan untuk menggembalakan jiwa-jiwa. Karena itu dalam penggembalaan fokus utama seorang gembala adalah memberikan makanan rohani berupa Firman Tuhan yang sehat bagi setiap jemaat. Bahkan gembala harus memahami dengan baik bahwa setiap jemaat yang datang ke gereja membawa rasa lapar akan kebenaran, dan melalui gembala, Tuhan menyediakan tuntunan agar jemaat dapat mengenal Allah lebih dalam.
Dalam Efesus 4:11-12 Rasul Paulus memberikan pengertian yang baik bahwa Tuhan Yesus sendiri yang memberikan karunia berupa rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, dan pengajar kepada gereja-Nya. Tujuan utama dari pemberian jabatan-jabatan ini bukanlah untuk menciptakan tingkatan sosial, melainkan untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan dan pembangunan tubuh Kristus. Oleh karena itu, otoritas seorang gembala tidak berasal dari kemampuan manusia atau posisi organisasi semata, melainkan otoritas yang murni berasal dan diberikan oleh Allah. Karena itu dalam otoritas seorang gembala sebagai pemimpin ialah memahami kebutuhan dari jemaat dengan memberikan makanan rohani berupa Firman Tuhan kepada mereka yang lapar supaya menjadi kenyang.